Aku Diperkosa

Friday, 19 October 2012 02:50 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info)

Shalom Pak,

Selama ini saya punya cita-cita ingin jadi pendeta, tetapi saya mengalami persoalan pribadi yang sangat membekas di hati saya. Dimana saya pernah diperkosa oleh kakak sepupu saya 2 tahun yang lalu. Waktu itu saya menumpang di rumah mereka karena saya masih menjalani pendidikan di SMA. Semenjak kejadian itu, saya merasa sudah tidak pantas lagi menjadi pendeta karena perasaan berdosa. Apalagi kakak sepupu saya melakukan perbuatan itu tidak hanya sekali saja dan saya tidak punya daya untuk melawan karena saya dikuasai oleh dia, sampai-sampai saya dipukuli dengan kayu, bahkan dianggap seperti sampah. Akibat kenangan pahit itu juga, saya selalu depresi dan mencari kekebasan di luar. Namun pikiran bersalah terus merundung jiwa saya, hingga saya berpikir bahwa saya tidak ada harganya lagi. Untuk menutupi kekecewaan itu, saya berteman dengan banyak laki-laki agar bisa melindungi saya, namun tanpa sadar saya melakukan hubungan intim dengan mereka. Pak tolong saya, sejujurnya saya ingin menjadi pendeta, namun masa lalu menghalangi dan membuat diri saya tidak layak untuk menjadi pendeta. Apakah saya harus memilih jurusan lain? Mohon dijawab Pak, terima kasih, Tuhan memberkati.

Dari

Ik, Mks

Jawab:

Saya turut prihatin dengan apa yang terjadi pada Anda. Sebenarnya ini masalah kriminal, namun sayang pihak aparat keamanan umumnya belum berfihak kepada korban perkosaaan dan belum memahami sepenuhnya hak-hak perempuan. Akhirnya, banyak fihak korban berdiam diri dan kemudian menanggung beban emosional yang berat sehingga terjadi depresi seperti yang Anda alami. Saya sungguh sedih dan turut berdoa untuk pemulihan Anda.

Saya harap Anda segera mencari konselor atau hamba Tuhan yang Anda yakin mampu menyimpan rahasia Anda. Ceritakan kepadanya kepedihan hati dan kekecewaan Anda. Biarkan hati Anda terbuka kepada lawatan Tuhan. Kemudian jangan melakukan tindakan pelarian, di mana itu akan merugikan masa depan sendiri. Apalagi kemudian berganti-ganti pasangan. Selain sangat berbahaya bagi emosi jiwa, juga kesehatan kelamin serta resiko kehamilan di luar pernikahan yang sah. Ini akan menambah runyam masalah. Coba pertimbangkan resiko itu semua, apalagi hal ini tidak berkenan kepada Allah.

Soal hubungan kita dengan Allah, Dia tidak berhenti mengasihi kita apapun keberadaan kita. Kita berharga di mataNya (Maz 8). Jika kita datang kepada Dia dengan memohon pengampunan, Dia akan menyucikan kita (1 Yoh 1:9). Penting kita mengingat bahwa citra diri kita di hadapan Allah tidak ditentukan oleh kebaikan kita, tetapi semata-mata oleh kasih sayangNya dan anugerahNya. Hilangkan perasaan bersalah dan tidak berharga, karena itu bukan suara dari Tuhan. Suara dari Tuhan selalu berkata bahwa kita adalah anak yang dikasihiNya. Tentu Anda harus berkomitmen untuk meninggalkan segala dosa kita.

Hal lain, jangan melihat masa lalu yang suram sebagai langkah untuk menatap ke depan. Dasar kita melangkah ke depan adalah kita dibenarkan di hadapan Allah. Jika ingin menjadi hamba Tuhan tentu tidak dilihat dari latar belakang masa lalu Anda, tetapi bagaimana panggilan Tuhan itu nyata dalam hidup kita. Banyak orang yang memiliki latar belakang yang rusak dipakai Tuhan luar biasa dalam kehidupannya. Jadi jangan rasa bersalah menghalangi panggilan Tuhan itu.