Saya Tidak Diterima Sebagai Menantu

Friday, 19 October 2012 02:24 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info)

Pertanyaan:

Shalom, saya seorang ibu rumah tangga, saya sudah 2 tahun menikah tapi tidak direstui oleh orangtua suami saya karena sebelum menikah saya telah hamil duluan. Ketika saya minta pertanggungjawaban, suami tidak mau. Ia mendesak saya untuk menggugurkan kandungan, namun saya tetap bertahan karena saya sudah jatuh ke dalam dosa perzinahan dan tidak ingin berdosa lagi. Tetapi mertua saya berkata bahwa saya dihamili oleh orang lain. Saya berniat untuk membuktikan kalau anak yang di dalam kandungan saya benar adalah cucu mereka. Karena perlakuan mertua seperti ini, saya sangat kesulitan mendapat pertanggungjawaban dari suami saya. Setelah melewati proses yang cukup lama, akhirnya tanggal 18 Desember 2009 lalu kami melangsungkan pernikahan kudus di sebuah gereja. Namun sampai saat ini, mertua saya belum menerima saya sebagai menantu. Saya sangat pasrah kepada Tuhan dan meminta kepada Tuhan sampai kapan mertua akan menerima saya sebagai menantu? Doakan saya dan mohon nasehat dalam menghadapi hal ini. Tuhan memberkati.

Dari: 081344129xxxx

Jawab:

Biasanya tiap keluarga memiliki konsep soal pernikahan. Umumnya mereka menghendaki pernikahan melalui prosesi acara pesta pernikahan yang agung. Apalagi keluarga itu berasal dari keluarga yang mapan atau terpandang, sehingga ada kewajiban mempertunjukkan kemuliaan dan kebaikan lewat pesta pernikahan yang baik dan terhormat dalam kerangka budaya. Sehingga tidak heran, banyak pasangan pacaran yang wanitanya hamil disuruh menggugurkan kandungan dulu. Itu dilakukan demi menjaga kehormatan dan rasa malu dari keluarga. Mereka menghindari gunjingan tidak sedap dan mempertahankan kehormatan keluarga. Nah, keluarga suami Anda kemungkinan termasuk dalam kelompok yang menganut pandangan ini. Segala macam tuduhan kemudian dilemparkan untuk membuat Anda mau mengikuti kehendak keluarga termasuk menggugurkan kandungan.

Syukur dan puji Tuhan bahwa Anda tidak menggugurkan kandungan Anda. Jika digugurkan, maka itu menambah dosa yang telah dilakukan, dan menggugurkan itu adalah sama dengan dosa pembunuhan yang sangat dibenci Tuhan. Dan syukur Anda sudah menikah dengannya, maka itu adalah suatu proses yang sangat baik. Kita sudah jatuh, tetapi bangkit dan memilih jalan yang benar, maka kita akan mendapat anugerahNya dengan limpah. Sengaja saya jawab dulu soal ini, agar kita tidak terus menerus dihantui rasa bersalah dan justru mampu melihat sisi positif perjalanan hidup kita.

Soal penerimaan mertua tidak begitu penting, jika kita sudah melakukan upaya yang terbaik untuk mereka. Prinsipnya mertua adalah orang tua kita juga dan harus dihormati (Ef 6:2-3). Tetapi pernikahan adalah keluarnya anak-anak dari orang tua mereka dan membentuk keluarga mandiri. Itu sebabnya jangan bergantung secara ekonomi kepada orang tua atau mertua, karena siapa berani menikah maka harus berani mengambil resiko tanggung jawab pemeliharaan keluarga. Dengan demikian, bila kita sudah berusaha memberi yang terbaik bagi mertua namun tidak mendapat respons yang baik maka Anda tidak perlu mengemis-ngemis untuk mendapat restunya. Bangunlah rumah tangga mandiri dan tidak perlu susah karena tidak direstui, karena Tuhan sudah merestui dan memberkatinya. Namun, ada catatan jangan membencinya dan memusuhinya. Datanglah pada hari ulang tahunnya, atau hari raya besar. Tetap tunjukkan hormat dengan melakukan yang baik. Dengan doa yang tiada henti, Tuhan akan meluluhkan hatinya suatu ketika.

Suami pun turut berperan dalam hal ini. Suami harus meminta maaf kepada orang tua dan mengatakan bahwa istrinya adalah bagian dari dirinya. Suami harus berani tegas tetapi penuh hormat mengatakan bila ayah dan ibu menolak menantu, maka itu berarti menolak anaknya sendiri. Keberpihakan suami terhadap istri akan membantu mempercepat pemulihan keluarga. Jangan lelah untuk terus berdoa. Tuhan memberkati.