Mengelola Keuangan Keluarga

Wednesday, 05 February 2014 03:20 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

 Oleh Daniel Ronda

Konflik keuangan tidak dapat dianggap remeh dalam pernikahan. Salah satu penyebab perceraian yang siginifikan adalah karena masalah ekonomi. Bisa jadi karena mereka tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam pernikahan akibat pekerjaan yang tidak memadai, atau akibat kehilangan pekerjaan ataupun bangkrut. Maka pepatah yang mengatakan sedia payung sebelum hujan penting diterapkan dalam mengelola uang dalam rumah tangga. Prinsip dasar Alkitab tentang pekerjaan sudah jelas: kerja keras, rajin, pandai dan hemat dalam mengelolanya. Niscaya jika kita belajar seperti semut seperti yang diajarkan dalam kitab Amsal, kita tidak akan berkekurangan. Nah, jika keuangan sudah stabil perlu dikelola juga dengan baik sehingga tidak ada penyalahgunaan.

Ada beberapa prinsip Alkitab dalam mengelola keuangan keluarga:

1. Materi yang didapat adalah milik Allah (Kel 19:5)

Setiap keluarga Kristen harus menyadari bahwa harta yang diperolehnya adalah milik Allah, dan kita bertanggung jawab kepada Allah untuk penggunaan uang yang diberikan kepada kita. Setiap rupiah yang kita dapat hendaklah kita pulangkan syukur kepada Allah. Sikap hidup bersyukur akan membuat setiap orang akan merasa puas dengan apa yang didapatnya. Karena manusia dalam kedagingannya tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Bersyukur akan membuat kita melihat perspektif baru dari harta itu.

2. Berikan persembahan kepada Allah (Amsal 3:9)

Prinsip kekristenan adalah persepuluhan milik Tuhan (Mal. 3:10), kemudian juga membantu hamba-hamba Tuhan dan orang kekurangan yaitu janda, yatim piatu dan orang yang menderita lainnya (Gal 6:10). Memberikan persembahan juga merupakan prinsip menabur, dan yang melakukannya akan mendapatkan tuaian yang melimpah dari Tuhan. Jangan takut dalam berkorban karena kita harus memercayai hukum rohani tentang pemberian.

3. Komunikasi adalah penting dalam mengelola keuangan

Suami-istri harus sepakat dan transparan dalam hal penggunaan keuangan, pembelian barang, menolong keluarga. Jangan diam-diam dan tidak ada pembicaraan soal uang, karena ini adalah hal yang sangat sensitif. Komunikasi akan membuat semua persoalan diatasi. Semua pengeluaran harus dibahas termasuk memberikan dukungan pada orang lain atau keluarga. Memang tidak mudah mencapai kata sepakat, tapi harus belajar untuk dikomunikasikan. Siapa yang memegang uang pun harus dibahas. Bila dari awal tidak dikomunikasikan dengan baik maka besar kemungkinan akan terjadi masalah yang lebih dalam di kemudian hari.

4. Hindari hidup konsumtif (I Yoh 2:15-17)

Beli barang menurut keperluan dan sesuai dengan daya beli kita. Banyak tawaran tentang gaya hidup masa kini lewat media massa, televisi dan media sosial. Namun apakah Tuhan berkenan dengan semuanya ini? Apakah saya membeli karena emosi dan keinginan? Apakah kita bisa tidur dengan baik karenanya? Dan apakah memang kita memerlukannya atau memenuhi tren masyarakat saja? Prinsipnya membeli berdasarkan kebutuhan dan kemampuan, bukan keinginan mata.

5. Hidup sesuai dengan batas kemampuan

Keluarga Kristen harus hidup sesuai dengan batas kemampuannya. Ada pepatah bahasa Indonesia "Lebih besar pasak daripada tiang", ini prinsip dasar yang harus dipegang dalam mengelola uang keluarga. Itu sebabnya perlu dibuat anggaran yang sederhana. Hati-hati terhadap pinjaman, terutama soal makan sehari-hari! Berhutang dalam konteks bisnis adalah hal yang wajar dalam dunia perbankan, tapi yang saya maksud jangan berhutang untuk makanan dan hal konsumtif lainnya. Saya tidak menganjurkan untuk berhutang untuk barang-barang konsumtif, kecuali barang yang memang dibutuhkan sekali seperti sepeda motor. Namun bila dilakukan, sudah harus memperhitungkan pemasukan bulanan yang ada.

6. Belajar menabung

Kitab Amsal minta kita belajar dari semut (Amsal 30:25), di mana bukan soal rajinnya saja yang patut ditiru, namun bagaimana dia menyimpan makannya. Ada dua hal yaitu rajin dan pandai di mana hasil kerjaannya disimpan. Kita harus belajar menabung, buat investasi yang benar (hati-hati dengan jenis-jenis investasi tipuan dengan iming-iming bunga yang tidak masuk akal. Jangan pernah memasukinya).

Tidak perlu pendapatan tinggi baru menabung, karena ini perlu untuk menghadapi situasi darurat juga. Menabung berguna bukan saja untuk hari tua tetapi juga untuk keadaan darurat seperti sakit, pendidikan anak, atau keperluan tak terduga lainnya.

7. Bagaimana jika pasangan kehilangan pekerjaan atau bangkrut?

Kehilangan pekerjaan atau bangkrut bisa menimpa siapa saja, apalagi dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu. Di sini suami istri harus kompak dalam menghadapinya. Bersyukur selalu atas apa yang terjadi, di mana istri ada di fihak yang mendukung dan menguatkan dan bukan menyalahkan. Kemudian segera bangkit: jangan malu melaporkan ke fihak gereja untuk didoakan, lalu mencoba mencari lagi dan minta dukungan sahabat. Jiwa yang optimis dan mau bekerja akan cepat mendapatkan pemulihan kembali. Namun prinsipnya harus bersedia kembali dari awal karier. Kebanyakan orang yang sudah berpengalaman kehilangan gairah bekerja karena gajinya tidak seperti bekerja di tempat semula. Memang sulit mendapatkan yang setara kembali, perlu ada proses waktu. Tapi jika mengingat adanya keluarga yang perlu makan, maka kita harus rela bahkan jika gaji tidak sepadan dibandingkan waktu sebelumnya. Jika terbuka hati menerima apa adanya, Tuhan pasti akan mengangkat karir seseorang.

Events

mengundang

agenda

Twitter


Ads on: Special HTML

Statistik Pengunjung

221426

Alamat

Dr. Daniel Ronda
Jl. Jambrut No. 24 (Kramat VIII)
Kel. Kenari, Kec. Senen
Jakarta Pusat, 10430

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP