Selingkuh dengan Pekerjaan

Monday, 03 February 2014 00:36 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

Oleh Daniel Ronda

Seorang anak yang saya kenal menceritakan bahwa dia tidak mau meneruskan profesi ayahnya sebagai seorang dokter. Ketika saya bertanya kepadanya mengapa, ia mengatakan bahwa ayahnya sudah pergi jam 5 pagi sebelum dia bangun dan pulang ke rumah di atas jam 11 malam setelah dia tidur. Walaupun keluarga ini berkecukupan, tapi anak kehilangan sang ayah yang telah berselingkuh dengan pekerjaannya. Anak tidak lagi mengenal ayahnya secara utuh dan hanya mengetahui ayah sebagai seorang yang bekerja untuk menyediakan uang. Hubungan menjadi kering dan tidak ada rasa hormat lagi di hati anak kepada orang tuanya.

Hidup memang semakin sulit dewasa ini. Tidak sedikit pasangan suami istri harus bekerja semakin keras untuk menghidupi keluarganya. Bahkan untuk mendapatkan kenikmatan hidup tidak sedikit yang bekerja melebihi batas normal manusia bekerja. Pagi-pagi sudah harus bekerja dan baru selesai tengah malam. Atau bahkan membawa pekerjaan ke rumah. Memang hasil melebihi cukup, tapi tidak sedikit ada harga yang mahal yang harus dibayar, termasuk kesehatan. Tetapi yang paling ironi adalah hubungan pasutri bisa jadi dikorbankan, bahkan yang paling fatal relasi dengan anak-anak. Banyak pasangan suami istri tidak ada lagi waktu bersama setiap hari dengan anak-anaknya. Sekalipun ada di rumah, setiap individu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Rumah hanya menjadi tempat persinggahan dan kebersamaan menjadi barang yang langka dengan anak-anak. Banyak urusan anak lalu diserahkan kepada istri atau yang lebih ironi diserahkan ke pembantu rumah tangga, sehingga anak jarang sekali berkomunikasi dengan orang tua mereka. Anak sudah lebih banyak berkomunikasi dengan pembantu, televisi dan berbagai permainan atau games.

Padahal pertumbuhan anak yang sehat secara fisik, mental dan spiritualitas terjadi bukan hanya soal gizi makanan yang baik tetapi relasi yang hangat antara anak dan orang tua. Terjadinya penyimpangan pada diri anak secara mental dan menjurus kepada tindakan kriminal karena relasi yang kurang itu. Tidak sedikit anak yang lari ke dunia narkoba, pornografi serta penyimpangan seks lainnya, ikut geng (termasuk yang tren geng motor), dan berbagai kenakalan lainnya. Jika ditelaah penyebabnya adalah tidak adanya perhatian orang tua dan tidak ada lagi relasi. Orang tua telah berselingkuh dengan pekerjaannya.

Bagaimana menolong melepaskan perselingkuhan ini sehingga pekerjaan juga tidak dikorbankan tetapi relasi antara orang tua dengan anak-anak tetap terjaga? Memang tidak cukup hanya satu fihak yang peduli kepada anak. Tidak cukup bila diserahkan kepada istri saja. Anak butuh figur ayah dan bukan hanya ibu saja. Maka setiap orang tua yang sudah memiliki anak patut duduk bersama istrinya untuk melakukan beberapa hal:

Pertama, orang tua perlu kembali mempertanyakan apa tujuan bekerja? Apakah pekerjaan yang dilakukan ini harus mengorbankan anak-anak? Adakah pekerjaan yang tidak harus mengorbankan waktu bersama dengan keluarga? Ini tentu sebuah pertanyaan yang tidak mudah khususnya yang bekerja di sebuah perusahaan, di mana waktu mereka diatur oleh perusahaan di mana mereka bekerja. Tetapi tetap harus mengusahakan pekerjaan yang membuat kita bisa bertemu dengan anak-anak kita. Sekalipun mungkin harus berpisah, maka itu sebaiknya hanya bersifat sementara. Untuk yang punya usaha sendiri, maka sudah waktunya untuk menata agar ada waktu yang disediakan untuk anak sekalipun mungkin keuntungan akan berkurang sedikit. Jika juga harus bekerja di rumah dan membawa pekerjaan ke rumah, maka harus ada siasat untuk menatanya sehingga bisa dihentikan sementara dan khusus meluangkan waktu untuk anak.

Kedua, setiap orang tua patut merenungkan apa itu kekayaan? Kekayaan harus dimaknai sebagai keseluruhan antara jasmni, rohani dan kekayaan anak itu sendiri. Bagi orang Timur, anak-anak adalah kekayaan yang tidak ada taranya. Maka alangkah bijak bila kekayaan itu yaitu sang anak mendapatkan perhatian dari orang tua dengan segenap hati. Apakah artinya orang tua memiliki kekayaan materi yang berlimpah, namun anak-anaknya tidak dapat menjaganya dan menikmatinya karena mereka melawan orang tua dan memiliki perilaku yang menyimpang? Di budaya Timur, anak adalah harta yang terindah. Pemazmur pun menyatakan hal itu sebagai milik pusaka (Maz 128). Tidak layak kekayaan ini disia-siakan oleh orang tua.

Ketiga, pulihkan kembali peran orangtua. Memang tidak mudah menata antara waktu bekerja dengan anak-anak. Tapi kita bisa lakukan secara bergantian tapi jangan dilepaskan kepada istri semuanya. Misalnya: Pada pagi ada waktu berdoa dan jika memungkinkan mengantarnya ke sekolah. Kemudian, jika ada waktu sore hari ada waktu bercakap-cakap soal hobi dan pelajaran. Lalu di malam hari ada waktu bisa makan bersama, menonton TV bersama, membantu mengerjakan PR, atau menemani sebelum tidur. Bila hal ini tidak mungkin dilakukan semua dan setiap hari, maka suami istri membuat jadwal melakukannya secara bergantian atau bersama. Jika salah satu berhalangan, maka ayah bisa menelpon anaknya dan menanyakan kabar serta menjelaskan mengapa dia tidak bisa menemani anaknya. Tentu anak akan mengerti bahwa orang tuanya juga harus bekerja keras agar bisa menghidupi keluarga.

Hindari pengkotakan peran. Sekalipun ayah bekerja menyediakan kecukupan ekonomi keluarga, namun tanggung jawab rohani dan memelihara relasi dengan anak tidak dapat diabaikan. Maka ketika ayah terlibat dalam menolong anak, maka dia sedang membangun relasi yang sehat dengan anaknya. Setiap anak tidak hanya membutuhkan ibu dalam pertumbuhannya. Dia juga sangat membutuhkan peran ayah serta figur ayah dalam hidupnya. Jika peran ayah dan ibu dilakukan, maka pasti anak itu akan bahagia dan menemukan arti hidupnya. Apalagi seorang anak perempuan, akan mendapatkan kestabilan psikologis jika dia mendapatkan figur ayah yang baik.

Lebih dari itu, orang tua patut menyiapkan waktu rekreasi bersama seminggu sekali dan liburan bersama pada masa liburan sekolah atau hari raya. Ini akan menambah keakraban dan relasi yang dalam secara emosional antara orang tua dan anak. Ini sungguh menyehatkan relasi sehingga anak akan bertumbuh secara totalitas dan menjadi anak yang berhasil yang pada akhirnya membanggakan orang tuanya. Stop selingkuh dengan pekerjaan!

Events

mengundang

agenda

Twitter


Ads on: Special HTML

Statistik Pengunjung

221426

Alamat

Dr. Daniel Ronda
Jl. Jambrut No. 24 (Kramat VIII)
Kel. Kenari, Kec. Senen
Jakarta Pusat, 10430

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP