Musuh di dalam Satu Selimut

Wednesday, 29 January 2014 02:11 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

Oleh Daniel Ronda

Mungkin bukan sesuatu yang aneh melihat pasangan suami istri bertengkar. Semua orang yang telah menikah memberitahu saya bahwa tidak ada pasangan yang tidak pernah mengalami konflik. Namun kapan disebut pertengkaran itu wajar? Dan kapan pertengkaran itu dikatakan tidak wajar lagi?

Ada pasangan yang saya kenal sudah menikah 40 tahun tapi hampir tiap hari bertengkar. Sekalipun sudah punya cucu masih suka bertengkar. Anak-anak mereka bosan mendengar pertengkaran mereka. Sampai akhirnya mereka mengikuti acara ME (Marriage Enrichment) yang diadakan sebuah gereja di Bandung. Di situ mereka baru sadar bahwa sungguh mereka telah menyia-nyiakan waktu mereka dalam pernikahan yang seharusnya dinikmati, justru diisi dengan pertengkaran yang tidak ada habisnya. Mereka bisa tetap bertahan walau terus bertengkar itu suatu berkat khusus. Namun terasa bagaikan duri hubugan itu karena rasanya ada yang tidak beres dan membawa kesengsaraan yang tidak ada taranya.

Kapan konflik dan pertengkaran itu dianggap tidak wajar lagi? Pertama, jika pertengkaran terlalu sering. Bisa jadi tiap minggu, bahkan sangat tidak wajar kalau hampir tiap hari. Apalagi disertai dengan kata-kata kasar, kotor dan tidak senonoh lagi. Kedua, jika pertengkaran sudah memakai kekerasan fisik. Itu sudah sangat fatal karena tidak dibenarkan baik oleh Firman Tuhan maupun secara hukum. Ketiga, bila konflik menyebar menjadi konflik yang melibatkan orang lain, termasuk anak dan keluarga besar lainnya. Dan sudah tidak ada lagi yang mau mendengar satu kepada lainnya.

Lalu bagaimana membuat pernikahan itu indah walaupun ada pertengkaran? Pertama, belajar menjadi dewasa. Sikap dewasa berbeda dengan sifat anak-anak. Sifat anak-anak hanya mau menang sendiri, mau dimengerti, dan tidak peduli orang lain. Sebaliknya sikap dewasa mencoba mengerti pasangannya, peduli pandangan-pandangannya dan sabar memahami mengapa pasangan kita punya pandangan yang berbeda. Bersikap mengalah bukan berarti lembek kepribadian, tapi bentuk kedewasaan karena yang kita ajak konflik ini adalah tubuh kita sendiri dan selalu bersama baik siang dan malam. Rasanya tidak tepat untuk menciptakan permusuhan yang adalah orang berbagi selimut di ranjang tempat tidur kita.

Kedua, tidak segan untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan. Intonasi pun harus dilatih untuk mengungkapkan dengan emosi yang datar dan tidak meluap-luap. Belajar untuk menahan diri dalam mengungkapkan kata-kata. Karena kata-kata kasar bisa dimaafkan, tapi akan sulit untuk dilupakan.

Ketiga, pelajari sifat pasangan kita, yaitu hal-hal apa yang disukainya dan apa yang tidak disukainya. Ini membutuhkan waktu dan kesabaran karena suami istri memiliki latar belakang yang berbeda baik dari sisi latar belakang keluarga, suku, pendidikan, ekonomi dan perbedaan lainnya. Tidak ada pasangan yang bisa langsung masuk ke pernikahan tanpa konflik. Sekalipun berpacaran lama, tetap ketika memasuki pernikahan membutuhkan banyak penyesuaian dan saling belajar untuk memahami keunikan masing-masing.

Keempat, tidak segan meminta pertolongan para ahlinya yaitu konselor ataupun hamba Tuhan bila konflik dan pertengkaran tidak pernah selesai bahkan mungkin menjurus kepada kekerasan. Banyak rumah tangga sulit diselamatkan masalahnya karena mereka mendiamkan masalah ini sampai parah. Ketika mereka sudah saling menyakiti dalam waktu yang lama maka sangat sulit dalam menyelesaikannya. Minta dukungan doa dari hamba Tuhan sehingga pasangan mampu menyelesaikan masalahnya dengan segera.

Akhirnya, pertengkaran adalah hal yang biasa terjadi dalam rumah tangga. Itu normal. Tapi harus segera diselesaikan dan diambil hikmahnya sehingga tidak menjadikan pasangan kita sendiri adalah musuh dalam selimut. Mengerikan bukan?

Events

mengundang

agenda

Twitter


Ads on: Special HTML

Statistik Pengunjung

221425

Alamat

Dr. Daniel Ronda
Jl. Jambrut No. 24 (Kramat VIII)
Kel. Kenari, Kec. Senen
Jakarta Pusat, 10430

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP