Ada Uang Abang Disayang, Tak Ada Uang??

Sunday, 12 May 2013 16:47 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

TANYA: Pertengahan tahun lalu saya berhenti kerja karena perusahaan tempat saya bekerja bangkrut. Dengan pesangon yang ada, kami mencoba bertahan dengan cara berjualan gorengan kecil-kecilan, tetapi lama-kelamaan merugi dan kami hentikan. Profesi saya selama ini membuat disain gambar untuk perusahaan tekstil. Saya telah bekerja 12 tahun. Namun ketika saya mencoba mencari pekerjaan penggenti di bidang yang sama ternyata sulit sekali. Saya terus mencoba namun gagal, maka saya bekerja serabutan, namun hasilnya tidak memadai. Setiap dapat uang lalu saya serahkan kepada isteri, ia bukannya bersyukur tetapi ngomel sebab tidak cukup dan dia bingung bagaimana cara membaginya? Lalu dikembalikan dan berkata, "Kamu saja yang membagi. Saya tidak sanggup!" Saya hanya diam, tetapi hal itu justru ditafsirkan sebagai sikap tidak bertanggungjawab. Maunya isteri saya cari pekerjaan tambahan, tetapi dengan usia saya sekarang, fisik saya tidak sekuat dulu lagi. Isteri saya marah dan pergi ke rumah orang tuanya dengan membawa anak kami yang masih bayi. Tinggallah saya berdua dengan anak perempuan sulung saya yang kini duduk di kelas enam sekolah dasar. Berulangkali saya menyusul isteri untuk pulang tapi mertua yang justru marah dan menganggap saya tidak mau berusaha. Mereka membiarkan saya sendiri. Bukankah ini namanya ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang.? Saya mencoba memaklumi sebab selama ini ia dibesarkan dalam keluarga berada, namun kini keadaannya berbeda. Bukankah waktu nikah suami-isteri telah berjanji setia baik dalam keadaan susah maupun senang? Saya bingung. Apa yang harus saya lakukan?

JAWAB:

Masalah keuangan memang menjadi salah satu konflik dalam keluarga, bahkan menjadi penyebab perceraian. Pada sisi lain, saya sungguh prihatin karena mencari pekerjaan bukan sesuatu yang mudah dalam situasi ekonomi yang sulit ini. Namun urusan ekonomi keluarga, seperti makan dan kebutuhan pokok lainnya tidak bisa ditunda. Apalagi anak-anak masih kecil dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Akan sulit rasanya kalau hanya untuk urusan makan saja harus meminjam. Tetapi sangat disayangkan bila istri harus pulang kembali ke rumah orang tuanya akibat situasi ini, karena ini bukan solusi. Komitmen pernikahan soal sehat atau sakit, suka atau duka, senang atau susah harus terus dipegang oleh kedua belah pihak. Justru istri harus ikut menjadi solusi misalnya dengan membantu mencari tambahan keuangan dengan usaha kecil atau lainnya.

Anda juga dalam hal ini tidak boleh cepat menyerah, karena sikap menyerah bukan hal yang dikehendaki Tuhan. Bagikanlah masalah Anda kepada hamba Tuhan, kepada teman-teman gereja. Siapa tahu di antara mereka ada yang memiliki jalan keluar untuk masalah pekerjaan ini. Itu sebabnya dalam dunia usaha, berteman dan memiliki jejaring adalah hal ang penting.

Miliki sikap positif terhadap diri sendiri. Misalnya, merasa fisik sudah tidak sekuat dulu, sulit mencari pekerjaan adalah sikap yang harus dibuang. Bila pekerjaan itu sulit didapat, maka coba kembangkan yang lain. Mencari kerja serabutan yang Anda sebutkan itu sudah positif, namun juga perlu bekerja dengan pintar. Artinya tidak cukup kerja keras saja, sehingga hasil yang didapat bisa mencukupi.

Akhirnya, dekatkan diri dan istri semakin dekat dengan Tuhan. Jangan menjauh dari Tuhan dalam doa dan ibadah. Kepasrahan dalam doa adalah sikap penting dalam kehidupan. Tuhan bisa mengangkat segala kekhawatiran kita, dan Tuhan akan membuat istri mampu menerima keadaan yang sulit ini. Selamat berjuang dan tidak mudah putus asa.

 

Events

mengundang

agenda

Twitter


Ads on: Special HTML

Statistik Pengunjung

278031

Alamat

Dr. Daniel Ronda
Jl. Jambrut No. 24 (Kramat VIII)
Kel. Kenari, Kec. Senen
Jakarta Pusat, 10430

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP