Anak Berani Melawan Ortu?!

Sunday, 12 May 2013 16:44 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

TANYA: Terima kasih untuk kehadiran rubrik Konseling. Saya tertarik dengan rubrik ini dan ingin menanyakan sesuatu berkenaan dengan pendidikan dalam keluarga. Saya dan isteri telah menikah 20 tahun. Anak kami empat orang. Yang paling besar baru masuk kuliah sementara yang bungsu masih di kelas 4 SD. Sejak menikah saya sebagai kepala keluarga menjadi pembuat keputusan. Jika saya memutuskan A maka anak-anak tidak akan banyak bertanya. Tetapi belakangan hari saya baru mengetahui bahwa mereka tidak suka dengan gaya kepemimpinan seperti itu. Oleh sebab itu saya mulai memberi kebebasan bagi anak-anak untuk menyampaikan aspirasi mereka meskipun keputusan terakhir tetap ada di tangan saya. Tetapi seperti kata pepatah, dikasih hati minta jantung, anak-anak menuntut saya mengambil keputusan berdasarkan suara terbanyak. Mereka akan marah jika saya mengambil keputusan di luar suara terbanyak. Padahal semua itu saya lakukan sebagai sarana masukan untuk kami orangtua mengambil keputusan. Akibatnya anak-anak semakin berani dan saya agak kewalahan sebab tidak jarang isteri saya pun berpihak kepada anak-anak. Untuk menegakkan wibawa kepemimpinan dalam keluarga saya berusaha konsisten dengan segala sesuatu yang sudah diputuskan, sehingga terkesan represif Maksud hati menegakkan demokrasi keluarga, tetapi saya menjadi lebih sering didikte mereka. Saya jengkel sehingga lebih banyak main di luar rumah sepulang bekerja. Bagaimana jalan tengahnya?

Bdi – Purwakarta, Jabar

JAWAB:

Puji Tuhan, Bapak telah berhasil membesarkan anak-anak sampai ada yang sudah kuliah. Tidak mudah membesarkan anak-anak di dalam generasi yang berubah ini, di mana faktor demokrasi juga memasuki kehidupan rumah tangga. Tentu Anda akan terkejut melihat perubahan ini, apalagi waktu kita dibesarkan figur Bapak sebagai penentu keputusan sangat kita hormati. Zaman Anda sama dengan saya bahwa keputusan seorang Bapak adalah segala-galanya dan kita bangga akan hal ini.

Tetapi sekarang kita terkejut, anak-anak mulai berani mempertanyakan keputusan kita. Bahkan kemudian ketika kita terbuka menerima masukan, mereka berani "mendikte" kita.

Keberanian terbuka itulah yang harus kita pertahankan. Saya sungguh terkesan, karena tidak banyak orang tua yang berani terbuka. Namun keterbukaan tanpa disertai perenungan akan menghasilkan kepedihan dan luka. Itu sebabnya Anda mencoba "melarikan diri" dengan kesibukan di luar. Coba renungkan, apakah pendapat anak-anak dan istri benar? Bila ya dan sesuai Firman Tuhan, kita harus berani menyetujuinya.

Wibawa dan harga diri terletak bukan kepada keputusan kita yang tidak boleh dibantah. Tetapi wibawa ada pada perhatian, kasih sayang, dan teladan yang kita berikan. Saya tidak tahu secara khusus masalah keluarga Anda, namun prinsip umumnya dapat diberikan: Pertama, ajak diskusi bersama dalam situasi yang nyaman seperti waktu mereka gembira atau jalan-jalan. Kedua, mendengarkan dengan tulus dan bukan hanya berkomunikasi dengan maksud supaya dia mau turut perintah kita. Itu hanya manipulasi komunikasi. Anak-anak akan tahu kalau kita tidak tulus dalam berkomunikasi. Ketiga, pentingnya berdialog dengan istri agar dia bisa menjadi mediator dalam menyampaikan maksud kita. Selamat membesarkan Anak.

Events

mengundang

agenda

Twitter


Ads on: Special HTML

Statistik Pengunjung

262670

Alamat

Dr. Daniel Ronda
Jl. Jambrut No. 24 (Kramat VIII)
Kel. Kenari, Kec. Senen
Jakarta Pusat, 10430

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP