Rubrik Konseling

Bagi yang mau bertanya soal permasalahan keluarga dan ingin mendapatkan layanan konseling dapat menghubungi di This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it . Atau isi form di sini.

Salam,
Daniel Ronda

DIlarang Pacaran

Sunday, 12 May 2013 17:05 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

TANYA: Saya berasal dari Kalimantan Timur, berusia 18 tahun. Masalah saya, setiap kali saya pacaran, saya selalu dimarahi oleh kakak saya, bahkan ia sangat tidak suka bila saya menjalin hubungan dengan pria, alasannya karena saya masih sekolah. Padahal saya sudah cukup dewasa untuk berpacaran. Mohon solusi Pak, terima kasih, Tuhan berkati.

Read more...
 

Masuk ke Sekolah Kristen Mahal!?

Sunday, 12 May 2013 16:50 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

TANYA: Saya ingin bertanya tentang pemilihan sekolah anak pertama saya. Usianya sudah lima tahun dan sekolah di TK B. Dia sudah dapat membaca kalimat-kalimat sederhana dan mulai dapat bersosialisasi dengan teman-teman sebaya. Di dekat kompleks perumahan di mana kami tinggal ada Sekolah Dasar (SD), namun saya ragu kualitasnya, dan banyak teman-temannya tidak seiman. Ketika saya bertanya tentang pelajaran agama, guru di sana menjawab bahwa tidak ada yang mengajar khusus untuk murid beragama nasrani. Dari sisi pembiayaan di sekolah itu pas dengan keuangan kami. Sebaliknya ada sekolah unggulan milik denominasi gereja tertentu, namun uang pangkal dan uang sekolahnya sangat mahal dan ketika kami meminta keringanan, mereka hanya menyarankan untuk mencari sekolah lain yang lebih pas dengan kemampuan keuangan kami. Saya bingung. Hati sih ingin memasukkan ke sekolah Kristen supaya anak saya mendapat pembinaan rohani, tetapi kami tidak memiliki kemampuan finansial. Lalu saya harus bagaimana?

Read more...
 

Ada Uang Abang Disayang, Tak Ada Uang??

Sunday, 12 May 2013 16:47 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

TANYA: Pertengahan tahun lalu saya berhenti kerja karena perusahaan tempat saya bekerja bangkrut. Dengan pesangon yang ada, kami mencoba bertahan dengan cara berjualan gorengan kecil-kecilan, tetapi lama-kelamaan merugi dan kami hentikan. Profesi saya selama ini membuat disain gambar untuk perusahaan tekstil. Saya telah bekerja 12 tahun. Namun ketika saya mencoba mencari pekerjaan penggenti di bidang yang sama ternyata sulit sekali. Saya terus mencoba namun gagal, maka saya bekerja serabutan, namun hasilnya tidak memadai. Setiap dapat uang lalu saya serahkan kepada isteri, ia bukannya bersyukur tetapi ngomel sebab tidak cukup dan dia bingung bagaimana cara membaginya? Lalu dikembalikan dan berkata, "Kamu saja yang membagi. Saya tidak sanggup!" Saya hanya diam, tetapi hal itu justru ditafsirkan sebagai sikap tidak bertanggungjawab. Maunya isteri saya cari pekerjaan tambahan, tetapi dengan usia saya sekarang, fisik saya tidak sekuat dulu lagi. Isteri saya marah dan pergi ke rumah orang tuanya dengan membawa anak kami yang masih bayi. Tinggallah saya berdua dengan anak perempuan sulung saya yang kini duduk di kelas enam sekolah dasar. Berulangkali saya menyusul isteri untuk pulang tapi mertua yang justru marah dan menganggap saya tidak mau berusaha. Mereka membiarkan saya sendiri. Bukankah ini namanya ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang.? Saya mencoba memaklumi sebab selama ini ia dibesarkan dalam keluarga berada, namun kini keadaannya berbeda. Bukankah waktu nikah suami-isteri telah berjanji setia baik dalam keadaan susah maupun senang? Saya bingung. Apa yang harus saya lakukan?

Read more...
 

Anak Berani Melawan Ortu?!

Sunday, 12 May 2013 16:44 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

TANYA: Terima kasih untuk kehadiran rubrik Konseling. Saya tertarik dengan rubrik ini dan ingin menanyakan sesuatu berkenaan dengan pendidikan dalam keluarga. Saya dan isteri telah menikah 20 tahun. Anak kami empat orang. Yang paling besar baru masuk kuliah sementara yang bungsu masih di kelas 4 SD. Sejak menikah saya sebagai kepala keluarga menjadi pembuat keputusan. Jika saya memutuskan A maka anak-anak tidak akan banyak bertanya. Tetapi belakangan hari saya baru mengetahui bahwa mereka tidak suka dengan gaya kepemimpinan seperti itu. Oleh sebab itu saya mulai memberi kebebasan bagi anak-anak untuk menyampaikan aspirasi mereka meskipun keputusan terakhir tetap ada di tangan saya. Tetapi seperti kata pepatah, dikasih hati minta jantung, anak-anak menuntut saya mengambil keputusan berdasarkan suara terbanyak. Mereka akan marah jika saya mengambil keputusan di luar suara terbanyak. Padahal semua itu saya lakukan sebagai sarana masukan untuk kami orangtua mengambil keputusan. Akibatnya anak-anak semakin berani dan saya agak kewalahan sebab tidak jarang isteri saya pun berpihak kepada anak-anak. Untuk menegakkan wibawa kepemimpinan dalam keluarga saya berusaha konsisten dengan segala sesuatu yang sudah diputuskan, sehingga terkesan represif Maksud hati menegakkan demokrasi keluarga, tetapi saya menjadi lebih sering didikte mereka. Saya jengkel sehingga lebih banyak main di luar rumah sepulang bekerja. Bagaimana jalan tengahnya?

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 Next > End >>

Events

mengundang

agenda

Twitter


Ads on: Special HTML

Statistik Pengunjung

221426

Alamat

Dr. Daniel Ronda
Jl. Jambrut No. 24 (Kramat VIII)
Kel. Kenari, Kec. Senen
Jakarta Pusat, 10430

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP