Mengembangkan Karakter Pemimpin Kristen

Sunday, 04 March 2012 16:03 Akmal

karakterOleh Daniel Ronda

Pendahuluan

Adalah hal yang mustahil memisahkan antara kepemimpinan Kristen dengan karakternya, antara kepemimpinan Kristen dengan kehidupan spiritualitasnya.  Ini adalah yang paling penting dan absolut bila hendak  menjadi pemimpin Kristen yang efektif.  Di dalam gereja, setiap pemimpin gereja yang potensial akan kena diskualifikasi bila tidak menunjukkan kehidupan kerohanian yang baik.  Itu sebabnya Yesus memberikan teladan dengan menjadi manusia, agar para pemimpin Kristen memiliki roh seorang hamba Tuhan yang dimampukan dan diperkaya oleh Roh Kudus.

Apalagi bangsa ini sangat membutuhkan pemimpin yang memiliki karakter. Bangsa Indonesia terlalu banyak diliputi skandal, termasuk di dalamnya bidang pemerintahan (yudikatif, legislatif, ekskutif), di dunia olahraga, pendidikan, bahkan gereja juga tidak terbebas dari skandal.  Bangsa ini perlu ditolong terutama dalam membangun karakternya, dan kita semua harus berperan di dalamnya.
Pembahasan dalam tulisan ini adalah membahas karakter para pemimpin gereja serta perannya dalam mengembangkan karakter bangsa, paling tidak menjadi teladan.  Karakter yang dimaksud, bukan berbicara soal dedikasi dan kekudusan, yang walaupun itu adalah esensial.  Tetapi karakter berbicara tentang manusia sebagai ciptaan Allah yang berperan mentransformasi (mengubah) dunia ini.

Keunikan Karakter

Karakter atau pribadi atau oknum adalah suatu istilah yang menunjuk kepada sesuatu yang hidup yang diciptakan Allah menurut gambar dan rupa Allah.  Ini adalah yang sangat penting diketahui dalam kepemimpin Kristen karena manusia adalah pribadi yang diciptakan Allah itu memiliki keunikan khusus yang tidak ada duanya di muka bumi ini.  Saya adalah saya, di mana tidak ada orang yang bisa menyamakannya.  Jadi karakter atau kepribadian setiap kita masing-masing adalah unik, tidak dapat terulang, tidak dapat dikopi orang lain.  Inilah yang berharga yang manusia miliki.

Itu sebabnya ketika berbicara tentang mengembangkan karakter pemimpin dan bagaimana dia bisa menjadi teladan, maka bukan berarti menciptakan keseragaman, tetapi pengembangan yang mengikuti model dan teladan dari Allah di dalam pribadi Yesus Kristus.   Setiap pemimpin Kristen memiliki keunikan khusus sebagai pribadi di mata Tuhan.  Tulisan ini tidak bermaksud menjadikan semua orang seragam, tetapi memperkembangkan pribadi sesuai dengan apa yang Tuhan sudah beri dalam kehidupan setiap orang.

Pemimpin adalah Kunci

Di dalam tren dunia manajemen umum, fokus keberhasilan adalah kepada pemimpin.  Peter Drucker (seorang pakar manajemen) berkata, bahwa “Sesungguhnya, para eksekutif yang tidak mengatur dirinya untuk menjadi efektif maka ia tidak akan dapat berharap untuk dapat mengatur rekan atau bawahannya.- Indeed, executives who do not manage themselves for effectiveness cannot possibly expect to manage their associates and subordinates.”

Seorang pemimpin tidak dapat berharap banyak bila hanya mengandalkan perubahan pada orang lain, karena perubahan itu harus terjadi dulu pada diri sang pemimpin. Itu sebabnya kepemimpinan sebagai agen perubahan (agent of changes) harus melihat diri dan karakter yang ada pada dirinya.

Persoalan yang sering dihadapi oleh para pemimpin dewasa ini ada beberapa hal. Pertama, godaan untuk merasa cukup (self-sufficient). Godaan ini adalah para pemimpin merasa dirinya tidak memerlukan orang lain, padahal dia perlu. Dia tidak perlu lagi belajar, tidak perlu bekerjasama dengan orang lain, karena sudah merasa diri cukup dengan gelar kesarjanaan yang diperolehnya.  Padahal di dunia sekarang ini saling ketergantungan, kerjasama, jaringan kerja (networking) sangat penting untuk mencapai keberhasilan. Apalagi kita tidak merasa perlu bergantung kepada sang pencipta, yaitu Allah.  Secara    jelas Yesus berkata bahwa tanpa Aku, kamu tidak akan dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5).

Godaan yang kedua adalah ingin menjadi spektakuler yang biasa disebut dengan mental selebritis (celebrity mentality).  Yang dimaksud di sini ingin cepat menjadi terkenal dengan segera, dan bukannya bergantung pada Tuhan tetapi kepada kharisma dan pengaruh diri dan bakatnya.  Kecenderungan untuk menjadi cepat terkenal dan berhasil menyebabkan banyak pemimpin muda terjebak ke dalam frustasi, karena ketidakseimbangan antara keinginan dan karakternya yang belum matang di pelayanan.

Godaan yang ketiga adalah keinginan yang berpusat pada diri (self-centered desire) untuk berkuasa.  Keinginan ini muncul dalam bentuk ingin menguasai orang-orang, gereja, keuangan.  Padahal dalam pelayanan jemaat adalah milik Kristus.

Oleh sebab itu pengembangan karakter bangs