Menjadi Gembala Baru di Suatu Jemaat

Tuesday, 04 September 2018 04:31 Daniel Ronda

Oleh Daniel Ronda


Mutasi gembala dalam gereja adalah siklus yang terjadi dalam kehidupan gereja. Dalam prinsip penetapan gembala di pemerintahan presbiterial-sinodal, ada yang mengambil konsep penempatan di mana Pengurus Klasis/Daerah yang memilih dan menetapkan gembala, namun ada juga Pengurus Jemaat diajak terlibat oleh Pengurus Daerah/Klasis dalam penempatan gembala di mana ada unsur undangan/pemanggilan dari jemaat lokal. Apapun bentuknya maka yang paling menentukan keberhasilan dalam tugas baru itu adalah si gembala itu sendiri yaitu bagaimana dia mampu memimpin jemaat yang baru ditempatinya.


Tidak sedikit gembala kesulitan masuk ke gereja yang baru karena majelis atau pengurusnya berbeda, jemaatnya berbeda sehingga perlu berkenalan dan mengadakan penyesuaian. Apalagi jika jemaat yang dimasukinya itu sudah bermasalah sebelumnya dengan gembala lama sehingga jemaat terluka. Itu sulit sekali menyembuhkannya. Sebaliknya sama sulitnya ketika gembala yang dicintai jemaat pergi meninggalkan mereka, gembala yang baru akan sangat terbeban karena jemaat kehilangan dan bisa jadi dalam perjalanan penggembalaan akan dibanding-bandingkan dengan gembala lama. 


Bagaimana cara agar gembala mampu memimpin di gereja yang baru ditempatinya? Ada beberapa saran pakar kepemimpinan gereja dan penggembalaan tentang hal ini:


Pertama, hati-hati terjebak kepada harapan (the trap of expectations) yang diberikan sebagai gembala baru. Jemaat yang mendapat gembala baru biasanya berharap banyak sekali bahwa akan terjadi perubahan yang lebih baik. Seringkali harapan itu berlebihan sehingga menjadi jebakan yang bisa nantinya membuat jemaat kecewa. Misalnya jemaat berharap akan terjadi pertumbuhan jumlah dalam waktu dekat, pemulihan dari permasalahan, hubungan akan semakin harmonis. Harapan berlebihan sebenarnya tidak sehat karena gembala perlu mempelajari kehidupan jemaat dahulu. Gereja pada dasarnya penuh dengan masalah karena gereja adalah kumpulan manusia berdosa yang dikuduskan oleh Kristus dan dalam proses penyempurnaan selama di dunia. Jadi berharap semua masalah akan hilang dalam gereja itu adalah harapan palsu. Masalahnya bukan pada gereja tidak ada persoalan tapi bagaimana setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan baik. Gembala perlu sering berkomunikasi dengan pengurus dan jemaat dan menjelaskan bahwa gereja selalu akan ada masalah dan tugas pemimpin berusaha menyelesaikannya.


Kedua, jangan terjebak kepada laporan dari orang-orang tentang kondisi jemaat (the trap of agendas). Banyak akan mendekat kepada gembala baru dan mulai menceritakan tentang si A atau si B atau permasalahan dalam jemaat. Biasanya banyak yang ingin mendekat dengan agenda khusus untuk mendapatkan keistimewaan dalam pelayanan. Jangan pernah langsung percaya kepada apa yang dikatakannya karena perspektifnya tidak luas. Pemimpin harus mampu melihat dari atas semuanya dan bersikap netral kepada seluruh jemaat. Jangan terjebak dengan saran yang diberikan oleh yang mendekati. Cara meresponi semua laporan yang masuk dengan cara bertanya: mengapa? Dan mengapa? Gembala yang baik akan memeriksa motif dari orang yang datang memberikan cerita. Pelajari orang-orang itu apakah memang dia orang yang baik atau sebaliknya memiliki agenda tersembunyi dalam gereja.


Ketiga, jangan terjebak kepada terlalu cepat memberikan saran, nasihat dan masukan (the trap of talking). Memang panggilan gembala adalah berbicara, tapi tidak otomatis langsung memberikan masukan atas semua persoalan jemaat tanpa melakukan pengamatan dan obervasi yang memadai. Dalam awal pelayanan di gereja yang baru maka perlu buka telinga, buka mata dan buka hati lebar-lebar. Gembala tentu harus berbicara, tapi posisinya se