Belajar Kepemimpinan (2): Tegas atau Otoriter?

Friday, 04 March 2016 01:12 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

Oleh Daniel Rondagame8indo_leader

Saya penggemar kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Dia dikenal tegas, keras dan berani. Apakah ini sama dengan otoriter? Karena ada yang menganggap beliau sangar, mulutnya kotor dan tindak lakunya seperti melewati sopan santun ketimuran.

Tapi Jakarta memang sedang membutuhkan pemimpin pejuang (warrior style of leadership). Kota sudah acakadut, semrawut, banjir, sampah, sabotase dan banyak kekumuhan di sana-sini. Preman merajalela, sungai sudah tak berbentuk karena penuh hunian, pejabat-pejabat hidup dengan enaknya, kerja sedikit tapi korupsi tidak ampun-ampun, pengusaha pun terpaksa melayani para priyayi pegawai ini dengan membungkam dengan suap yang menyilaukan mata. Semua berkolaborasi menjadi satu yang menyebabkan Jakarta sudah tidak ada harapan. Hampir semua sudah berpikir bahwa kota ini sudah tidak ada yang bisa perbaiki dan sudah menyerah. Banjir sudah dianggap bagian kehidupan, macet dianggap biasa, korupsi bahkan dianggap kewajiban.

Ketika muncul Ahok dengan gaya tegasnya yang memimpin dengan keras sambil menindaki bahkan memecat PNS yang terlalu lama santai banyak yang terkaget-kaget. Tapi tentu banyak orang memberikan apresiasi karena mulai tampak perubahan dan terus akan berubah ke tempat yang lebih baik.

Gaya keras dan model peperangan ini memang hanya cocok dalam situasi yang krisis. Sebab bila terlalu lembek maka pasti pemimpin akan digilas. Tak dipungkiri bahwa ada resiko menjadi keras, tapi itu sebuah pilihan jika memang mau maju. Tapi tidak bisa juga sembarang keras atau asal keras. Ada beberapa yang perlu diperhatikan untuk memakai gaya keras dalam memimpin:

Pertama, kepemimpinan yang tegas dan keras harus disertai dengan kejujuran dan tidak korupsi. Bisa jadi tidak sempurna karena dianggap kasar, atau kelemahan-kelemahan lain yang teknis. Tapi soal jujur dan integritas itu hal yang mutlak dalam kepemimpinan. Jika mau tegas dan keras tapi tidak jujur, maka pemimpin akan mendapat julukan munafik.

Kedua, pemimpin tegas tidak bisa sendirian. Dia harus melibatkan banyak tokoh dan orang penting untuk menciptakan aliansi untuk membawa perubahan. Kisah Pak Ahok menarik karena dia menyadari bahwa Satpol PP tidak cukup melawan preman Jakarta yang begitu garang. Ormas agama saja dibuat lari tunggang langgang oleh para preman ketika suatu ketika mau melakukan razia. Jadi diperlukan kekuatan yang lebih besar dengan melibatkan aparat. Namun tidak sampai menjadi otoriter karena semua dilakukan secara transparan dan dibuntuti media. Itu yang membedakan tegas dan otoriter, di mana sikap otoriter menjadi represif bila media dan kritik dibungkam.

Ketiga, pemimpin yang tegas dan keras adalah seorang yang memberikan solusi penyelesaian. Kepemimpinan Pak Ahok menyediakan Rusun yang layak dan pendidikan memadai, pelatihan pekerjaan bagi mereka yang digusur. Prinsipnya adalah bila melakukan tindakan drastis dalam mengubah sesuatu, harus ada solusi lain yang lebih baik. Itu membuat gaya tegas dan keras semakin disukai.

Keempat, ketegasan tidak identik dengan marah-marah saja atau hukuman. Ketegasan dan keras itu memiliki sisi empati yaitu bila berhasil diberikan penghargaan (reward) dan sanksi jika melakukan kesalahan yang berulang dan disengaja. Empati menggambarkan sisi manusia pemimpin bahwa sikap tegasnya lahir untuk kebaikan orang yang dipimpinnya dan membawa organisasi atau rakyatnya kepada kehidupan yang lebih baik.

Kelima, tegas membutuhkan konsistensi dan keyakinan diri (confident). Artinya bahwa tidak bisa tegas pada satu hal dan pada waktu lain menjadi kompromi. Dibutuhkan konsistensi dalam bertindak tegas disertai suatu keyakinan bahwa Tuhan pasti menolong dan melindungi. Tanpa konsistensi maka tidak akan ada ketaatan dan rasa hormat dari bawahan karena tegas akan dimaknai sebagai arogansi dan otoriter sang pemimpin. Selamat belajar menjadi tegas (DR).

Last Updated on Friday, 04 March 2016 01:13

Events

mengundang

agenda

Twitter


Ads on: Special HTML

Statistik Pengunjung

221425

Alamat

Dr. Daniel Ronda
Jl. Jambrut No. 24 (Kramat VIII)
Kel. Kenari, Kec. Senen
Jakarta Pusat, 10430

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP