Seri Khotbah yang Hebat: Mendengar Khotbah

Monday, 10 November 2014 05:08 Daniel Ronda
Print option in slimbox / lytebox? (info) PDF

Khotbah yang Hebat: Mendengar Khotbah (22)

hearSuatu waktu saya ke Korea bersama rombongan hamba Tuhan ke sebuah gereja besar di Seoul yaitu Kwanglim Methodist Church. Gereja ini tentu beraliran Methodist yang menggunakan himne dalam ibadah mereka. Tapi ketika tiba pada saat pengkhotbah naik mimbar saya menemukan keunikan. Jemaat selalu meresponi khotbah dengan mengatakan “amin” setiap kali kalimat selesai diucapkan. Ada semangat dan respons yang terjadi dalam setiap khotbah yang disampaikan. Hal yang sama terjadi juga di berbagai gereja di Korea, termasuk kita saya berkesempatan lagi mengunjungi Onnuri Church di kota Seoul beberapa tahun setelah kunjungan ke Kwanglim Methodist Church. Saya bertanya kepada para hamba Tuhan di sana mengapa mereka selalu meresponi dengan amin atas setiap pengkhotbah mengakhiri kalimat? Tentu jawabannya sederhana, karena jemaat mereka diajar menghormati firman Tuhan dan diajari untuk meresponi dengan kata amin. Sungguh sebuah cara yang sederhana.

Sama dengan berbagai tempat di dunia, maka mendengarkan khotbah di sini bagi jemaat adalah sebuah kebiasaan rutin, tapi apakah jemaat menantikannya? Atau malah sebaliknya jemaat merasa mendengarkan khotbah hanya sebuah rutinitas biasa. Jemaat merasa biasa saja, tidak bertumbuh menjadi lebih dewasa. Bisa jadi karena kita tidak pernah mengajarkan jemaat bagaimana mereka seharusnya mendengar dan meresponi khotbah. Apalagi memang mendengarkan khotbah itu bukan hal yang mudah, di mana jemaat disajikan panorama masa lalu yang sudah beribu tahun yang lalu kejadiannya, sehingga ketika kita menyajikan panorama itu dalam khotbah jemaat merasa ini adalah suatu yang tidak relevan. Itu sebabnya membawa jemaat ke panorama masa lalu dan menemukan relevansi kepada waktu masa kini adalah tugas yang tidak mudah. Kita mudah jatuh kepada pendulum masa lalu atau sebaliknya terlalu fokus ke masa kini. Maksudnya ada yang sibuk mendalami masa lalu Alkitab tapi lupa menjalinnya dalam satu kesatuan dengan kekinian. Pada sisi lain ada yang fokus ke situasi cerita masa kini tapi lupa menguraikan firman Tuhan.

Lalu bagaimana kita bisa menolong jemaat untuk bisa mendengarkan khotbah dengan lebih baik? J.C. Ryle dalam bukunya “Expository Thoughts on the Gospels: Luke Vol. 1 (Carliste, PA: Banner of Truth, 1986), 258-259 menjelaskan tiga langkah sederhana bagaimana mendengarkan khotbah:

Pertama, mendengarkan dengan IMAN. Jemaat perlu diyakin bahwa iman kepada firman Tuhan adalah percaya bahwa kebenaran yang disampaikan adalah sesuatu yang benar dan di dalamnya kita bersandar. Iman inilah yang menyebabkan firman Tuhan itu dapat bertumbuh dalam diri kita sehingga memiliki kegunaan (profit) yang luar biasa dalam kehidupan orang percaya (bdk. Ibrani 4:2).

Kedua, mendengarkan dengan rasa HORMAT. Selalu diingatkan bahwa firman Tuhan itu bukan firman manusia tapi dari Tuhan sehingga jemaat harus belajar menghormatinya dengan sungguh-sungguh. Begitu pula ketika firman Tuhan diuraikan, mereka harus belajar seperti jemaat Tesalonika di mana mereka mendengarkan firman yang disampaikan Paulus bukan firman manusia, tapi sebagai sabda dari Tuhan (bdk. 1 Tes 2:13).

Ketiga, mendengarkan dengan DOA. Jemaat diminta untuk turut berdoa mohon berkat sebelum khotbah dimulai dan setelah selesai khotbah juga memohonkan berkat atas firman Tuhan. Doa ini akan menolong jemaat mengantisipasi berkat yang mereka akan terima. Tanpa doa maka khotbah akan mengalir bak air yang dicurahkan ke bejana yang bocor, di mana akhirnya setelah aliran air berhenti tidak ada air yang sisa di bejana itu. Jemaat perlu mendoakan para pengkhotbah agar mereka akan dipakai sebagai alat di tanganNya untuk menyampaikan kebenaran firman Tuhan.

Akhirnya, adalah tanggung jawab pengkhotbah (gembala dan pemimpin) untuk mengajarkan jemaat untuk datang pada hari Minggu dengan tidak tergesa-gesa, tanpa persiapan. Sebaliknya jemaat diajar datang dengan persiapan hati, penuh perhatian, tidak dengan tangan hampa tapi menyiapkan persembahan yang terbaik, serta berdoa memohon agar Tuhan melawat dengan kebenaran Firman Tuhan (*DR*)

Last Updated on Tuesday, 11 November 2014 01:10

Events

mengundang

agenda

Twitter


Ads on: Special HTML

Statistik Pengunjung

253619

Alamat

Dr. Daniel Ronda
Jl. Jambrut No. 24 (Kramat VIII)
Kel. Kenari, Kec. Senen
Jakarta Pusat, 10430

Follow me on:

facebook-icon Facebook
twitter-icon Twitter
skype-icon Skype (danielronda67)

Disclaimer

Untuk penggunaan materi di website ini, mohon izin ke penulis via email dan sms HP